Banyak komunitas sepak bola yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Salah satunya Muslim Football Sidoarjo yang punya banyak aktivitas.
—
LAMPU Stadion Jenggolo, Sidoarjo, menyala terang pada Rabu malam (8/7/2026). Bukan pukul 19.00 tapi lebih malam yakni 20.00.
Di jam tersebut, para pemain sudah turun di lapangan. Mereka adalah anggota komunitas Muslim Football Sidoarjo. Bagi komunitas tersebut, bermain sepak bola dan pada malam hari sudah menjadi hal yang biasa.
Namun, Rabu malam itu terasa spesial. Bagaimana tidak, tim yang dibina Ustadz Fachry Perman itu kedatangan tamu yang cukup spesial. Para legenda sepak bola hadir dan bersedia menjadi lawan tanding. Bahkan, tim legenda tersebut bertanding sebanyak tiga kali.
Di antara para pemain legenda yang hadir di Stadion Jenggolo Rabu malam itu ada nama Anang Ma’ruf. Dia merupakan legenda hidup sepak bola Persebaya Surabaya, Persija, dan Timnas Indonesia. Di Persebaya, pemain yang kini sudah berusia 50 tahun itu, dua kali dibawanya menjadi juara yakni 1996/1997 dan 2004. Selain itu, Macan Kemayoran, julukan Persija, ikut diantarkan mengangkat trofi kompetisi sepak bola tertinggi di Indonesia di musim 2001.
Yang tak kalah hebat, Anang merupakan pemain yang pernah digembleng di Italia dalam proyek prestisius PSSI, Primavera. Arek Simo, Surabaya, itu pun pernah bermain untuk mantan klub rakasasa Italia, Sampdodria, di masa jayanya dalam tur Asia.
Selain Anang, ada Nus Yadera. Dia merupakan legenda Gelora Dewata yang kini bertranformasi menjadi Deltras Sidoarjo. Dia pernah membawa klub itu menjadi juara Piala Liga 1993 dan menjadi wakil Indonesia di ajang Asia. Sebagai pelatih, Nus sukses mengantarkan beberapa klub berprestasi.
Ada juga Bagus Nirwanto. Sosok inidua musim terakhir, berhasil mengangkat klub yang dibelanya promosi ke Liga 1. Malut United diantarkannya pada musim 2024/2025 dan Garudayaksa musim lalu, 2025/2026.
‘’Sebenarnya, ada beberapa pemain yang sempat bilang mau hadir. Uston (Nawawi), (Nurul) Huda, dan Agung (Prasetyo). Namun, mereka ada acara di waktu yang bersamaan dengan jam pertandingan,’’ ungkap Kodari Amir, koordinator pemain legenda.
Uston, ujarnya, masih menjalani acara bersama Persebaya di Surabaya. Sedangkan Huda, tengah takziah karena ada temannya yang meninggal. ‘’Agung menunggu ada tamu yang mau datang ke rumah. Tapi Alhamdulillah, rekan-rekan yang lain bisa datang,’’ ujar lelaki yang pernah membela Mitra Surabaya, Persijap Jepara, dan Persegi Gianyar itu.
Dengan kumpulan pemain sarat pengalaman itu, tim legenda tak terkalahkan dalam tiga game. Di game pertama, imbang dengan Muslim Football Sidoarjo Merah 2-2, menang 2-1 atas Muslim Football Sidoarjo Biru, dan 2-0 atas Muslim Football Sidoarjo Hitam. Menariknyaa, lima gol dari enam gol tim legenda diborong Adi Putra Setiawan, sosok pelatih yang ikut mendidik dan membesarkan dua pemain nasional andalan Indonesia sekarang Rizky Ridho dan Marselino Ferdinan.
‘’Yang utama kami bisa memenuhi undangan Muslim Football Sidoarjo dan memperkuat silaturahmi,’’ tandas Kodari.
Muslim Football Sidoarjo sendiri respek dengan kehadiran Anang dkk. Mereka mengucapkan terima kasih. ‘’Komunitas Muslim Football Sidoarjo pun mengkonfirmasi turut berterima kasih atas kehadiran para legenda sepak bola nasional atas kesediaannya untuk memenuhi undangan mereka, dan meminta maaf apabila ada kekurangan di dalam menjamu para legenda sepak bola tanah air tersebut,’’ ucap salah satu Koordinator Muslim Football Sidoarjo Yanuar. (*)


